LAMONGAN |SMAPER — Kabupaten Lamongan tidak lahir begitu saja dari sebuah garis batas administrasi, melainkan terbentuk melalui pergulatan sejarah panjang yang berakar pada masa syiar Islam di Jawa Timur. Kisah berdirinya daerah ini berpusat pada sosok Rangga Hadi, seorang santri kepercayaan Sunan Giri yang dikenal mengayomi masyarakat hingga melahirkan nama “Lamongan”.
Secara etimologi Jawa Kuno, nama Lamongan berakar dari kata La atau Ra yang berarti baik, serta Mong yang berasal dari kata among atau ngemong (berarti mengasuh, memimpin, atau menjaga dengan kasih sayang). Gelar Mbah Lamong melekat kuat pada Rangga Hadi karena kemampuannya memimpin wilayah Kenduruan—sebuah kawasan yang kini menjadi bagian dari Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Lamongan—dengan penuh kepengayoman saat menjalankan amanat penyebaran Islam dari Sunan Giri.
Tonggak sejarah penting terjadi pada 26 Mei 1569 atau bertepatan dengan 10 Zulhijah 976 Hijriah. Pada momen tersebut, Sunan Prapen (Sunan Giri IV) secara resmi mewisuda Rangga Hadi sebagai Adipati Lamongan pertama yang bergelar Tumenggung Surajaya. Tanggal bersejarah inilah yang hingga kini diperingati secara khidmat sebagai Hari Jadi Kabupaten Lamongan.
Meski era kadipaten Islam menjadi titik mula penataan pemerintahan formal, wilayah Lamongan sebenarnya telah memainkan peran vital jauh sebelum abad ke-16. Sejak abad ke-10 hingga ke-14 Masehi pada era Jawa Kuno, kawasan ini berfungsi sebagai pintu gerbang dan daerah penyangga strategis bagi kerajaan-kerajaan besar seperti Kahuripan, Jenggala, Singasari, hingga Majapahit. Jejak peradaban purba tersebut terekam kuat dalam sejumlah peninggalan sejarah, di antaranya Prasasti Cane dan Prasasti Canggu.
Memasuki era kemerdekaan Republik Indonesia, tatanan tata negara Lamongan diperkuat secara legal formal pada 8 Agustus 1950 melalui penetapan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Kabupaten di Provinsi Jawa Timur.
Kini, Lamongan terus bertransformasi menjadi daerah megapolitan yang dinamis sebagai bagian dari kawasan metropolitan Surabaya Raya (Gerbangkertosusila). Di samping pesatnya pembangunan ekonomi dan industri, Lamongan tetap merawat identitas budayanya yang khas—dari warisan religius makam Sunan Drajat hingga reputasi kuliner legendaris Soto Lamongan yang telah mendunia. [Tim MDG]

